"the more you share, the more you functioning as human being"

Friday, May 20, 2011

Mengapa Hari Dirayakan

Hari ini tanggal 20 Mei. Well known, sebagai hari peringatan kebangkitan nasional. Konon karena merupakan tanggal berdirinya organisasi pemuda pertama Indonesia yg berbau-bau politik, Boedi Utomo. Kenapa dikatakan 'bangkit'? Wajar. Karena saat itu, pemerintah Hindia-Belanda demen sekali buat kita terpuruk sampai terjongkok-jongkok. Sehingga sekelompok pemuda merasa sudah waktunya inlander bangkit berdiri. Tidak cuma jongkok-jongkok lagi. Menjadi masyarakat madani yang bisa tiduran-jongkok-duduk-berdiri sendiri.

Selain Hari Kebangkitan Nasional, banyak hari-hari lain dirayakan. Dan banyak komentar orang-orang yang berceletuk: kenapa juga mesti dirayakan?

Saya pernah sih, mikir begitu. Tapi menurut saya yang sekarang, berpikir begitu hanya bikin saya jadi manusia skeptis. Dulu, bagi saya, ada beberapa 'hari' yang nggak penting tapi entah kenapa dirayakan. Hari Bumi, salah satunya. Dan Hari Lupus atau hari-hari penyakit lainnya. Ga penting. Itu dulu.

Sekarang, yang saya pikir adalah mengapa hari-hari tertentu dirayakan: karena tidak setiap hari manusia mampu mengingat hal-hal penting yang kecil namun berdampak super bagi hidupnya. Dan satu lagi, manusia pada prinsipnya suka hal-hal seremonial. Makin dirayakan, makin sip.

Dibalik sebuah perayaan terhadap hari, ada makna besar yang, tentunya, sulit dijangkau otak kalau kurang informasi. Tapi secara simpel, sebuah hari dirayakan untuk kembali mengingatkan manusia akan beberapa hal. Hari Lupus mengingatkan manusia kalau ada penyakit bernama unyu, Lupus dan ruam berbentuk kupu-kupu yang disebut butterfly effect merupakan salah satu tandanya. Atau hari bersejarah. Seperti Hari Kebangkitan Nasional ini. Dengan dirayakan, manusia Indonesia jadi kenal/kembali kenal dengan organisasi Budi Oetomo, dengan nama asli Ki Hajar Dewantoro, dengan fakta bahwa ditengah keterpurukan parah, pribumi Indonesia pernah dengan semangat bangkit melawan pihak yang demennya mlenet hak-hak mereka.

Efeknya, merayakan hari menjadi satu hal efektif untuk melawan lupa. Penyakit umum yang jamak dialami kebanyakan manusia.

Bisa jadi, untuk memberantas penyakit lupa terhadap beberapa hal menggantung, baiknya dirayakan harinya. Misal, hari pertama pembahasan kasus Century di DPR dijadikan Hari Kasus Century.

Nice, gak?

Mohon maaf atas kedangkalan akal.

1 comment:

  1. Buahaha. Penulisan Budi Utomo nya nggak konsisten -_-"

    ReplyDelete